E-WasTe Mengancam Negara Berkembang,..

Revolusi teknologi mengubah dunia dengan beragam produksi perangkat canggih. Namun salah satu dampak yang sukar ditangani adalah sampah elektronik. Menurut para ilmuwan lingkungan, selain pemanasan global, masalah sampah elektronik adalah yang paling mengancam planet bumi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, sekitar 20 sampai 50 juta ton sampah elektronik dihasilkan per tahunnya. Parahnya, 70 persen dari limbah itu dibuang di negara-negara miskin dan berkembang.

Adapun menurut studi lembaga lingkungan Greenpeace, pada tahun 2010 akan terjadi peningkatan ratusan persen jumlah sampah elektronik di negara berkembang. Ekspor limbah mudah terjadi karena lemahnya regulasi di negara -negara itu, semisal di China, Filipina atau Vietnam.

Efeknya pun amat buruk. Para pekerja yang ingin mendapat untung dari sisa-sisa elektronik terekspos racun dari tumpukan sampah. Demikian pula dengan alam sekitar jadi tercemar mengingat banyak bahan beracun dipakai dalam pembuatan perangkat elektronik.

Kritik pun berdatangan bahwa negara maju semacam Amerika Serikat, Uni Eropa atau Kanada tidak berbuat apa-apa meski masalah terus terjadi. Mereka terus saja membuang sampah elektronik ke negara lain.

“Amerika dan Kanada tetap mengekspor sampah komputer ke negara berkembang karena dalam hukum di sana, komputer bekas dianggap bukan limbah,” ungkap Ibrahim Shafii, Technical Program Officer untuk Secretariat of the Basel Convention, perjanjian lingkungan mengenai limbah elektronik.

Solusinya, regulasi sampah elektronik dunia harus diperketat. Kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan soal bahaya sampah elektronik.

Semoga semua sadar, bahwa bumi ini titipan dari generasi yang akan datang. So,… Bertindak sekarang untuk “Save Our Earth Clean”!!

Wisata Kuliner di Jogja??? KasiEeee daH,….

Tempat Makan yang “katanya“  recomended di Yogyakarta

NASI/MIE GORENG

* Pak Pele, Pojokan Alun-alun Lor
* Depan Pasar Kolombo, Jl. Kaliurang Km 7.5
* Nasi Goreng Batas Kota, Depan Gedung Wanita
* Mie Goreng Depan Kadin, Depan Bioskop Permata
* Mie Goreng, Terminal Terban
* Mie Goreng Pak Kribo, Depan Hotel Sri Manganti, Rahayu
* Sego Goreng Perumahan Banteng (Jl. Kaliurang masuk kekanan? terus belok utara)
* Lor Tugu (wetan/timur dalan/jalan karo/dan kulon/barat dalan/jalan)
* Bakmi Mundiyo (Jl. Ibu Ruswo pas pertigaan)
* Bakmi Pak Tris, Jl. Kemetiran Kidul, Ngebuk
* Doring, prapatan pojok beteng kulon ngalor.
* Bakmi Pak Rebo, dekat fotokopi Sambas.
* Nasi goreng Depan SMA 7
* Nasi goreng Miroso wetan Galeria
* Wirosaban sebelah timur perempatan sebelum rumah sakit wirosaban, murah enak
* Nasi Goreng kambing jalan Magelang
* Mie Jakarta, depan RS. Bethesda, Jl. Sudirman

SATE/TONGSENG

* Sate Samirono semua cabang
* Djono Jogja, Jl. Sagan Baru
* Tongseng Depan Masjid, Perum Purwomartani ,Kalasan
* Mlati (lapangan Mlati ngulon-ono pertigaan-cedak wit Ringin)
* Cak Kowie Ngarep Gedung wanita Tama
* Depan Dolog ( kalo’ pagi jualan nangka, cedake Darmi mangkal)
* Sate Sapi Jl. Godean ( Perempatan Ring Road PM Demak ijo ngulon terus-ngarep POM BENSIN )
* Sate Sapi Kota Gede – Alun-alun Karang, Kotagede (yang pertama) atau saudaranya, timur Toms Silver, pertigaan ke kota gede ke kanan(dari arah terminal Umbulharjo).
* Sate Ngaglik di depan kec, Ngaglik Jakal km. 9
* Sate Meduro Cak Fa’i, jalan Sultan agung, cedak protelon bangjo jalan Taman Siswa
* Pak Udin, depan Pabrik Cerutu Tarumartani
* Pak Udin, Taman Garuda, seberang Hotel Garuda
* Sate Pak Amat, Jl. Sultan Agung
* Sate Padang, depan Hotel Century, dekat tapal batas Yogya
* Lidah Kambing Goreng, Jl. Kaliurang Km 7 – pasar Colombo

SOTO-SOTO

* Soto Sulung Cak H. Kowie, Depan Gedung Wanita
* Soto Sulung Umbulharjo
* Soto Kudus Mandala Krida
* Soto Pak Soleh, Jl. Gampingan/Tegal rejo
* Soto Gamping (pertigaan gamping-ring road barat, ke barat sedikit terus ke utara, pokoke ning kulon rel sepur tengah sawah)
* Soto Taman sari
* Soto Sawah (Mirota Godean Ngidul)
* Soto Sulung Stasiun Tugu (iki soto sulung pertama di Jogja!)
* Soto Pak Marto dekat perempatan TamanSari Yk dan semua cabangnya.
* Soto Pak Tembong, perempatan Apotik Hayam Wuruk (Bausasran)
* Soto Ayam Pasar Kembang

AYAM GORENG/PECEL LELE

* Ayam Goreng Suharti
* Wartend pinggir selokan dekat Pos Polisi UGM
* Wartend deket Biologi, UGM
* Wartend Depan Menwa IAIN
* Ninit, Jl. C. Simanjuntak.
* Wartend depan Pertanian UGM
* Ayam Goreng Suka-suka, Jl. Kaliurang Km 6
* Wetan Ambarukmo (Wetan Saung Kabayan mlebu ngalor)
* Ayam Goreng Mbok Sabar, Jl. Jagalan
GADO-GADO/LOTEK

* TETEG, bawah Jembatan layang (sekarang pindah seberang jalan, dekat Kantor Golkar)
* Depan Pabrik Cerutu, masih satu Jalan dengan Gado-gado Teteg
* Lotek Juara Indonesia, Pojok seberang PT. Sarihusada
* Lotek Depan Jalan Masuk samping UPN
* Lotek, dekat Radio GERONIMO

GUDEG
* Gudeg Campur Sari , Batas Kota
* Gudeg Bu Amat Lor Selokan mataram ( Lor Kehutanan, Belakang Artha)
* Gudeg encer Depan Toko Gunung Agung Tugu (setelah jam 21.00)
* Gudeg Wijilan (selatan plengkung Wijilan, nomor 2 dari arah utara)
* Gudeg Juminten, sebelah barat Tugu
* Gudeg lesehan, sebelah barat Bioskop Permata
* Gudeg Bu Tjitro, sebelah kiri, pertigaan masuk ke bandara Adisucipto

BAKSO

* Bakso Kauman, disamping perempatan kauman/nggerjen, dari arah ngasem ke Alun-alun Utara, bakso gorengnya enak.
* Bakso Cak Mahmud, Jl. Kusumanegara
* Bakso Cak Karno, Pugeran, antar Pojok Beteng Kulon dan Plengkung Gading
* Bakso urat Pak Brewok, jalan AM Sangaji
* Bakso urat PakTembong, Jl. Juminahan, jagalan

PECEL

* SGPC bu Wiryo deket peternakan
* SGPC teknik, Bulak Sumur

SIOMAY

* mang Mudi, deket perempatan Kentungan
* mang Mudi lagi, barat Auditorium Grha Sabha
* Siomay jakarta, barat Purna Budaya (Yang jualan keren, pakai HP segala)
* Siomay depan SMP 5 (Yang jualan kembar loh)

IKAN BAKAR/GORENG

* Moro Lejar, Cangkringan, Sleman, setelah Pakem, dekat Kali Kuning itu
* Numani, Prapatan Ringroad ke arah Parangtritis/Imogiri ke selatan 500 m
* Ikan bakar Kulone Unisi kulon
* Ikan bakar, perempatan SGM kekanan (belakang bon-bin Gembiroloko)

MARTABAK TELOR/MANIS

* Didekat/samping pintu masuk Mandala Krida
* Martabak Bandung depan Gedung Wanita
* Martabak Telor puyuh depan Gardena (siang jam 10.00)

PEMPEK

* Ny. SUKAMTO, belakang/samping toko ramai

SEA FOOD

* Tio-Ciu, Jl. Sudirman, Gondalayu (dekat Hotel Santika)
* Pak Djenggot, Depan RS. Bethesda, Jl. Sudirman

LAIN-LAIN

* Bakpia Pathok 75, Jl. Pathuk
* Kepala Kakap di rumah makan Padang Jl. Diponegoro
* Teh Poci (teh, jae dan gula batu), Baratnya Galleria, Jl. Sudirman, Sagan kidul
* Angkringan nasgithel, ngarep SGO jalan mBantul.
* Lidah kambing goreng, jalan Kaliurang km7 wetan pasar Colombo. Mung bukak sore, rodo wengi sithik wis enthek.
* Juadah lan tempe bacem, Kaliurang, cedak protelon sing nek ngiwo nggone vila-vila kae lho!
* Jajanan pasar ning pasar Lempunyangan.
* Abon Di Jl. Wijilan 37 (pusat oleh-oleh) enak tenannn…ada usus goreng, intip goreng, jamur goreng..
* Ceker bakar…..!! Angkringan ngarep Menwa lan ngarep Panti Rapih
* Telor Asin, tanjakan Jl. Wirobrajan
* Aneka es krem, sebelah kanan bioskop Ratih
* Wedang Ronde, sebelah Harian Kedaulatan Rakyat
* Bakmi kadin : dekat pakualaman (tapi tidak terlalu enak, cuma herannya top sekali ya)
* Gudeg yu jum : di daerah selokan mataram

Coba,..dan rasakan kLezatannya…..cMiwW,  ;P

Bersatu dalam Nikmatnya Soto

Makan soto atau ”nyoto” adalah tradisi yang mempunyai sejarah panjang. Soto tersedia di warung-warung kecil pinggir jalan maupun di mal-mal atau restoran luas berpenyejuk ruangan. Soto adalah makanan rakyat yang ada di berbagai daerah di Nusantara, egaliter, serta melintas budaya.

Kalau kita lihat, hampir semua daerah di Indonesia mempunyai soto. Soto Bandung, Bogor, Betawi, Solo, Semarang, Kudus, Yogyakarta, Lamongan, Surabaya, Padang, Makassar, atau mana pun, mempunyai kekhasan nama dan rasa masing-masing. Kata ahli kuliner, Tuti Soenardi, ada satu ciri yang sama di antara semua soto, yakni bahwa soto pastilah ada kuah kaldunya dan bumbu dasar yang sama. Isinya, bisa apa saja, mulai taoge hingga gimbal.

Mari tengok Soto Betawi Bang Sawit di Margonda, Depok, misalnya. Penggemarnya bisa siapa pun dari daerah mana pun, salah satunya Direktur CIRUS Andrianof Chaniago (45), yang asli Padang itu. Ia menyukai soto padang, namun soto betawi lebih enak katanya. Sepekan tidak makan soto betawi, rasanya ada yang kurang. ”Disajikan panas-panas langsung di atas kompor seperti memasak sabu-sabu, soto menjadi beda,” ujarnya.

Read More…

I Love You Just The Way You Are

Menyatukan dua orang dengan latar belakang yang berbeda, bahkan sangat berbeda, bukanlah hal yang mudah. Budaya, pola asuh, pendidikan, dan lingkungan keluarga serta pergaulan sangat mempengaruhi perilaku seseorang dan kecocokannya dengan orang lain.

Terkadang yang kita anggap cocok saat ini, belum tentu cocok nanti. Seiring dengan perjalanan waktu, kita tidak hanya melihat persamaan, namun juga melihat perbedaan. Kemudian sampai di mana kita mampu mengelola perbedaan tersebut menjadi sesuatu yang indah, di mana yang satu dapat melengkapi yang lain? Bila kedua belah pihak tidak dapat menerima perbedaan yang ada, atau malah hanya berdiam diri dan menyimpan dalam hati tanpa membicarakannya, akan muncul masalah dalam hubungan tanpa mereka sendiri.

Seringkali orang mencari pasangan berdasarkan penampilan fisik atau materi semata. Padahal standar fisik (cantik, langsing, ganteng, kekar) atau materi bersifat subjektif. Memang kadang hal tersebut dapat membuat kita bahagia namun di mana esensi cinta?

Robert Sternberg, seorang psikolog mengemukakan konsepsi mengenai cinta. Ia mengilustrasikan cinta dalam bentuk segitiga.

Cinta yang penuh atau lengkap adalah cinta yang disebut consummate love, yakni kombinasi dari adanya keintiman (intimacy), hasrat (passion), dan komitmen (commitment) . Cinta tanpa komitmen tidak menunjukkan adanya kesetiaan dan saling mengasihi yang mendalam.

Cinta tersebut hanya karena nafsu, membara namun pada akhirnya berpaling ketika ada objek cinta yang lain. Komitmen menandakan adanya penerimaan antara yang satu dengan yang lain dan menjadikan cinta sebagai sesuatu yang suci di antara mereka.

Di lain pihak, cinta tanpa hasrat merupakan cinta yang hampa. Komitmen saja, misalnya karena terpaksa menikah karena pilihan orang tua atau karena berhutang budi tanpa memiliki hasrat, menyebabkan ikatan karena keharusan, bukan karena kerelaan. Baik, bila pada akhirnya cinta dapat tercipta. Bila tidak, hubungan terasa hampa.

Cinta yang timbul karena komitmen dan hasrat semata, tanpa mau mengenal pasangan lebih dalam dan berusaha memahami serta membangun keintiman yang lebih dalam adalah cinta yang kekanak-kanakan. Seperti cinta monyet. Esensi cinta juga sulit ditemukan dalam cinta semacam ini. Masalah dapat timbul dan cinta dapat hilang begitu saja.

Bila kita mampu membangun komitmen, mengenal pasangan kita lebih jauh, memahami dirinya sebagai pribadi yang unik dan kita cintai, memiliki hasrat untuk bersamanya, maka kita akan mendapatkan cinta seutuhnya. Tidak mudah memang. Namun, belajar untuk menerima, saling membangun satu sama lain, dan menyadari bahwa cinta saya adalah pada pribadi ini dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah cinta yang sebenarnya.

Pada dasarnya, mewujudkan hal tersebut tidak semudah ketika saya menuliskannya. Seperti telah diungkapkan di atas, menyatukan segala perbedaan bukan hal yang mudah. Berusaha untuk menerima dengan lapang dada, tidaklah mudah. Tetapi pasangan seperti apakah yang kita cari? Sampai kapan kita akan menemukan pasangan yang sempurna? Jawabannya tidak akan pernah ada kecuali kita sendiri yang menciptakan kesempurnaan itu.

“Cinta yang timbul dari hati, dari kejujuran dan ketulusan, love actually alias I love you just the way you are”

Hal tersebut pada akhirnya akan membantu kedua belah pihak menyelesaikan masalah yang ada. Toh kita tidak akan tetap muda dan terus mencari dan mencari. Suatu hari kita akan merasakan kerinduan untuk berbagi dengan orang yang penting dalam hidup kita, ingin menggenapkan tugas perkembangan kita yaitu membangun keluarga.

Pada saatnya nanti, pernikahan bukanlah permainan, bukan hanya sekadar pesta, namun merupakan janji suci dua insan. Apakah akan berakhir dengan kesedihan karena sikap egois dan seenaknya sendiri atau berakhir bahagia hingga akhir waktu kita sendiri yang dapat menentukan.

Insiden Monas Rekayasa Amerika!

Satu hari setelah terjadinya Insiden Monas (01 Jun 2008), Kedubes AS di Jakarta langsung bereaksi, mengirimkan fax ke sejumlah media massa (02 Jun 2008). Isinya, mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan oleh sebagian anggota FPI terhadap puluhan anggota masyarakat yang menghadiri undangan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (detik.com 03 Jun 2008).

Menurut penilaian Soeripto, anggota Fraksi PKS di DPR, pernyataan Kedubes AS itu sebagai bentuk campur tangan AS dalam masalah dalam negeri (Republika 04 Jun 2008). Bagi yang paham, pernyataan sikap Kedubes AS tidak hanya ditafsirkan sebagai adanya intervensi, tetapi menunjukkan indikasi adanya keterlibatan AS di dalam insiden Monas. Artinya, pernyataan sikap itu merupakan bentuk tanggung jawab sang pemberi tugas terhadap anak buahnya yang terluka parah di lapangan Monas. Ini indikasi pertama.

Sebelum menyelenggarakan “aksi damai” tanggal 01 Juni 2008, aktivis AKKBB memasang iklan di beberapa media nasional, antara lain di Kompas edisi 30 Mei 2008 halaman 18, dan sebelumnya di harian Media Indonesia 26 Mei 2008 halaman 13. Selain berisi ajakan untuk menghadiri apel akbar di Monas (Jakarta), 1 Juni 2008 jam 13-16 WIB, iklan tersebut memuat sejumlah nama (hampir 300-an nama) yang sebagiannya dapat dikenali sering mondar-mandir ke Kedubes AS di Jakarta, bahkan sejak masa Orde Baru, terutama menjelang kejatuhan Soeharto. Bila pada masa Soeharto mereka-mereka ini membawa bendera berbau demokrasi, pada masa reformasi mereka sebelum akhirnya tergabung ke dalam AKKBB, nama-nama itu bisa kita temukan pada iklan anti RUU APP. Orangnya itu-itu juga. Ini indikasi kedua.

Indikasi ketiga, bisa ditemukan pada materi iklan yang halus namun provokatif, seolah-olah benar namun keliru secara mendasar. Selengkapnya sebagai berikut:

MARI PERTAHANKAN INDONESIA KITA!

Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesia-an kita. Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain. Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.

Marilah kita jaga republik kita.

Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita.

Marilah kita kembalikan persatuan kita.

Jakarta, 10 Mei 2008

ALIANSI KEBANGSAAN untuk KEBEBASAN BERAGAMA dan BERKEYAKINAN

Bagi yang terbiasa berkutat di bidang propaganda, materi iklan di atas, mengandung beberapa clue yang mengarah ke pihak ketiga. Sayang sekali penjelasan rinci berkenaan dengan clue tersebut tidak dapat diuraikan di sini.

Selain itu, pada materi iklan itu jelas mengandung berbagai kekeliruan yang mendasar. Pertama, Indonesia memang menjamin setiap warganya bebas menjalankan ajaran agamanya, namun bukan berarti setiap orang bebas membajak agama yang sudah ada.

Kedua, persoalan Ahmadiyah adalah persoalan akidah umat Islam, bukan hak asasi manusia. Bila mau dikaitkan dengan hak asasi, maka justru umat Islam yang hak asasinya dilanggar, karena sebagai warga negara umat Islam berhak mendapatkan ajaran Islam yang murni, berhak menjaga agamanya dari rong-rongan pemalsu agama, termasuk dari kaum anti agama. Oleh AKKBB, dibelokkan menjadi “memaksakan rencana untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan…” Artinya, pengusung anti Ahmadiyah dikatakan mau makar. Ini jelas tuduhan keji, finah tanpa dasar. Ini provokasi!

Ketiga, Ahmadiyah Qadiyan (JAI) sudah berada di sini sejak 1925, sedangkan Ahmadiyah Lahore empat tahun kemudian (1929). Di tahun 1936 Bung Karno (calon presiden pertama RI) pernah menuliskan sikapnya terhadap Ahmadiyah. Ia menyatakan, dirinya bukan anggota Ahmadiah, dan mustahil ikut mendirikan cabang Ahmadiah atau menjadi propagandisnya. Pernyataan itu disampaikan Bung Karno sebagai reaksi atas sebuah tulisan yang mengatakan bahwa BK adalah anggota JAI dan turut mendirikan salah satu cabang JAI di Sulawesi.

Di tahun-tahun itu (1925, 1929 dan 1936) belum ada Indonesia, karena proklamasi kemerdekaan RI baru terjadi pada tahun 1945. Di alam kemerdekaan, presiden pertama Republik Indonesia pernah melarang Ahmadiyah. Menurut Ridwan Saidi, pada zaman Bung Karno ada beberapa gerakan yang dilarang termasuk Ahmadiyah.

Apa Kepentingan Amerika Serikat?

Sudah jelas, AS ingin Indonesia tetap utuh berupa NKRI yang sekuler, sehingga tetap bisa dihisap sumber daya alamnya. Namun demikian, AS tidak mau Islam di Indonesia kuat dan bersatu-padu. Jangankan terhadap kelompok Islam yang mengusung penegakkan syari’ah, bahkan terhadap kelompok Islam yang mengusung bid’ah pun, AS enggan membiarkannya kuat dan utuh bersatu. Kalau Islam pengusung bid’ah ini utuh bersatu dan kuat, bukan mustahil di dalam diri mereka akan tumbuh nasionalisme sempit (ashobiyah), sehingga mendorong mereka mendirikan negara tersendiri di ujung timur pulau Jawa, karena di sanalah “ibukota negara” pengusung bid’ah itu berada. Potensi disintegrasi ini dicegah dengan menciptakan koflik tak berkesudahan di dalam tubuh mereka.

Oleh karena itu, bisa dimengerti bila dari komunitas itu sering timbul perselisihan internal. Bikin partai, pengurus partainya ribut. Kelompok kyainya ribut, ada yang mendukung Ahmadiyah, ada yang menentang. Dulu di tahun 1960-an, sebagian komunitas pengusung bid’ah ini ada yang pro komunis, namun ada pula yang menolak. Ketika komunisme sedang jaya-jayanya di pelatran politik nasional, di kawasan para pengusung bid’ah ini banyak yang ikut masuk komunis. Namun ketika komunis surut dan cenderung diberangus, dari kalangan mereka pulalah yang paling getol membunuhi pengikut komunis. Seperti jeruk makan jeruk. Di tahun 1980-an, ada sebagian dari masyarakat pendukung bid’ah ini yang mendesak keluar dari parpol tertentu, namun ada pula yang berkeras bertahan di parpol tersebut. Maka, mereka pun ribut di antara sesamanya.

Mengapa ormas pengusung bid’ah itu ribut terus? Karena antek AS yang kalau jalan harus dituntun itu, masih eksis dan menjiwai ormas itu. Meski pernah terbukti berzinah dan menghina Al-Qur’an, namun karena tipikal pendukungnya yang emosional dan taqlid buta itu, maka keberadaan sang antek terus tegak, kesalahannya sebesar apapun tak tampak, apalagi ditunjang kekuatan adidaya.

Musuh Peradaban

Ketika komunisme masih berjaya, terutama di kawasan Rusia dan Cina, maka AS dan umat Islam dunia menjadikannya sebagai musuh bersama. Ketika komunisme sudah tumbang, maka yang kemungkinan terjadi adalah pertempuran dua peradaban: antara Islam dan Barat (Kristen).

Untuk mencegah adanya benturan langsung di antara dua peradaban itu, maka perlu dibangun neo komunisme sebagai bumper. Bila komunisme lama adalah anti imperialisme dan anti kapitalisme, maka neo komunisme karena dilahirkan dari Barat yang kapitalis, jadinya komunis yang pro kapitalis dan pro imperialis. Neo komunisme ini tidak frontal terhadap Islam.

Dalam rangka menciptakan bumper tadi, AS memanfaatkan potensi-potensi yang ada, bahkan menciptakan agen-agen yang berasal dari negara itu sendiri. Misalnya, memberi pendidikan gratis atau dengan beasiswa bagi pemuda-pemudi, sarjana-sarjana dari Indonesia untuk meraih gelar doktor di bidang keagamaan. Dari sini kita bisa temukan sosok seperti Harun Nasution, Mukti Ali, Daoed Joesoef, Syafii Maarif, Nurcholish Madjid, hingga generasinya Ulil abshar Abdalla.

Meski mereka mendalami Islam, namun karena gurunya adalah orang-orang kafir yang menjadikan Islam hanya sebagai ilmu, bukan syariat yang harus diimplementasikan, maka yang terjadi adalah orang-orang yang mengerti Islam namun orientasinya berbeda. Para lulusan Barat ini cenderung menyampaiksan Islam dengan tujuan membingungkan, memurtadkan, membuat orang ragu-ragu, atau bahkan menilai salah ajaran agamanya sendiri.

Dari mereka inilah lahir pemikiran-pemikiran yang berbobot kufur, dan kemudian dimanfaatkan oleh para generasi komunis muda untuk dijadikan landasan bahkan mesiu memerangi Islam. Generasi muda komunis ini tidak sungkan-sungkan masuk ke perguruan tinggi seperti UIN atau IAIN untuk tujuan yang sangat jelas. Maka tidak heran bila dari perguruan tinggi Islam seperti itu lahir jargon-jargon ateisme seperti “Kawasan Bebas Tuhan ” atau “Anjinghu Akbar” dan sebagainya.

Kiprah para generasi muda dan tua neo komunis ini bersinergi dengan para penganut sepilis tentunya amat sangat merepotkan umat Islam yang konsisten dengan perjuangan menegakkan syariat Islam. Karena repot menghadapi para neo komunis dan sepilis ini, maka konsentrasi dan energi umat Islam tidak fokus kepada upaya penegakkan syari’at Islam. Pada saat seperti inilah fungsi penganut neo komnis dan pengusung sepilis sebagai bumper yang mencegah terjadinya benturan peradaban antara Barat yang Kristen dengan Islam.

AS dan Barat pada umumnya, harus terus meghidupkan bumper-bumper tadi, sehingga Islam tidak leluasa menjadi kekuatan alternatif bagi peradaban dunia. Sosok-sosok seperti Syafii Maarif hingga Zuhairi Misrawi (sosok yang lebih muda dari Ulil) akan terus mendapat pasokan berarti hingga eksistensinya terjaga, sampai batas waktu yang tak tertentu.

Penganut neo komunis dan sepilis itu kini bergabung ke dalam AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). AKKBB sesungguhnya hanyalah sampul yang bagus untuk isi yang buruk. Mereka menampilkan diri dengan bungkus kebangsaan, padahal menjalankan agenda asing yang anti Islam. Mereka tampil dengan bungkus kebebasan beragama, namun yang mereka musuhi justru umat beragama (Islam) yang konsisten dengan penegakkan syari’ah Islam. Mereka tampil dengan bungkus yang seolah-olah santun, namun terus memprovokasi, memfitnah, menuding-nuding dengan sebutan-sebutan yang menghinakan melalui berbagai tulisan dan pernyataannya (lihat berbagai tulisan di Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, dan berbagai situs seperti The Wahid Institute dan situs JIL).

Bila dari sejumlah hampir 300 nama yang tercantum di dalam iklan AKKBB di berbagai media massa itu diklasifikasikan, setidaknya dapat dibuat penggolongan sebagai berkut:

a) Ada yang tergolong sebagai pengikut dan pelaksana aktif perilaku seks bebas.

b) Ada yang tergolong penganut sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme).

c) Ada yang penganut neo komunisme dan anti agama.

d) Ada yang tergolong sebagai pendukung kesesatan.

e) Ada yang tergolong sebagai antek asing dengan berkedok kebangsaan dan hak asasi manusia.

Ketika terjadi insiden Monas 01 Juni 2008, menurut pembuktian FPI dan TPM (Tim Pembela Muslim), AKKBB memulai insiden dengan memprovokasi FPI dan Laskar Islam pimpinan Munarman dengan meledeknya sebagai laskar kafir. Bahkan ada yang memuntahkan peluru dari pistol yang dibawanya, sehingga massa FPI dan Laskar Islam bukannya takut malah berang dan balas menyerang secara fisik.

Dari tabiat AKKBB yang seperti itu, maka tak heran bila sebagian masyarakat mengartikan AKKBB sebagai Aliansi Keluarga Komunis Baru Bersenjata. Oleh karena itu, yang harus dibubarkan pemerintah adalah kelompok seperti ini, yang pura-pura santun namun terus memprovokasi dengan berbagai pernyataan dan tulisan, dalam rangka memancing pihak tertentu untuk melakukan kekerasan.

1 Tamparan Untuk 3 Pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah diluar negeri,kembali ke tanah air, Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya

Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.
Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawabpertanyaan anda.
Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar
tidak mampu menjawab pertanyaan saya ?
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya ?
2. Apakah yang dinamakan takdir ?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3
pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya? Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?
Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!
Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan
kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak. Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.
Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang
menyakitkan untuk syaitan. Sekarang anda mempunyai dua pilihan:

Wasalam Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata’ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang
membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.

Pengabdianmu,….

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sbagai prasasti trimakasihku tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

Sepenggal masterpiece yang berasal dari seorang guru honorer yang mengabdikan hidupnya sebagai penerang bagi pendidikan Indonesia. Saat ini himne guru berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,  jarang terdengar lagi. Masih terngiang betapa di era 1980-an, lagu ini sangat sering dinyanyikan di sekolah-sekolah. Sebab setiap upacara bendera pada hari Senin, lagu ini selalu dinyanyikan.

Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” bahkan kemudian menjadi ikon yang disematkan kepada para guru. Siapa sangka bila “sang pahlawan” yang tanpa tanda jasa itu sejatinya dialami si pencipta lagu tersebut. Ya, Sartono, pencipta lagu yang juga guru itu di masa senjanya hidup dalam kesederhanaan. Laki- laki asal Madiun yang genap berusia 72 tahun, 29 Mei ini, tinggal rumah sederhana di Jalan Halmahera 98, Madiun.

Sejak ia mengajar musik di SMP Purna Karya Bhakti Madiun pada 1978, hingga “pensiun” pada 2002 lalu, Sartono tetap menyandang guru honorer. Ia tak punya gaji pensiunan, karena statusnya bukan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kawan-kawan sesama guru sempat membantu mengajukan dia menjadi PNS. “Katanya sih sering diajukan nama saya, tetapi sampai saya pensiun dari tugas sebagai guru, PNS untuk saya kok tidak datang juga,” kata Sartono.

Sartono memang minder dengan latar belakang pendidikannya yang tak tamat SMA. Ia mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang belakangan lebih dikenal sebagai SMP Kristen Santo Bernadus. Berbekal bakatnya di bidang musik, Sartono yang beragama Islam itu melamar di Santo Bernadus berbekal sertifikat pengalaman kerja di Lokananta, perusahan pembuat piringan hitam di Solo, Jawa Tengah.

Hidup serba dalam kesempitan, tak membuat Sartono meratapi nasib. Ia merasa terhibur, dengan kebersamaan dengan Damiyati, BA, 59 tahun, isterinya yang guru PNS. Damiyati dinikahi Sartono pada 1971. Dari pernikahan mereka belum jua dikaruniai anak. Sehingga mereka mengasuh dua orang keponakan. Damiyati yang juga guru, juga seniman biasa manggung bersama Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, di masa mudanya.

Kehidupan sehari-harinya kini hanya dari pensiun istrinya yang tak lebih dari dari Rp 1 juta. Sartono sendiri kala masih aktif mengajar, gajinya pada akhir pengabdiannya sebagai guru seni musik cuma Rp 60.000 per bulan. “Gaji saya sangat rendah, bahkan mungkin paling rendah diantara guru-guru lainnya,” katanya mengenang masa lalunya.

Kala masih kuat, Sartono menambal periuk dapurnya dengan mengajar musik. Sepekan sekali, Sartono yang pandai bermain piano, gitar, dan saksofon, ini rutin mengajar kulintang di Perhutani Nganjuk, sekira 60 kilometer dari rumahnya di Madiun.

Jalan menjadi seorang guru berawal dari kegemarannya bermain musik. Putra sulung dari lima bersaudara ini sebenarnya lahir dari keluarga cukup berada. Maklum, ayahnya R. Soepadi adalah Camat Lorog, Pacitan. Sartono kecil memang suka bermain musik secara otodidak. Namun, hidup nyaman tak bisa dirasakan berlama-lama. Ketika ia berusia 7 tahun, Jepang menduduki Indonesia. Ayahnya pun tak lagi menjabat camat.

Sartono, bersama empat adiknya, Sartini, Sartinah, Sarwono dan Sarsanti, tak bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ia sendiri putus sekolah kala kelas dua di SMA Negeri 3 Surabaya.

Ia kemudian bekerja di Lokananta, perusahaan rekaman dan produsen piringan hitam. “Saya Lupa tahun berapa itu, tapi saya hanya bekerja selama dua tahun saja,” kata Sartono, yang mengaku sudah susah mengingat tahun.

Selepas kerja di Lokananta, Sartono bergabung dengan grup musik keroncong milik TNI AU di Madiun. Ia bersama kelompok musik tentara itu pernah penghibur tentara di Irian. “Di sana selama tiga bulan,” jelasnya.

Ihwal penciptaan lagu himne guru itu boleh dibilang tak sengaja. Ketika itu, tahun 1980, Sartono tengah naik bis menuju Perhutani Nganjuk, untuk mengajar kulintang. Di perjalanan, secara tidak sengaja ia membaca di secarik koran, mengenai sayembara penciptaan lagu himne guru yang diselenggarakan Depdiknas. Hadiahnya besar untuk saat itu, Rp 750.000. Waktu yang tersisa dua pekan, untuk merampungkan lagu.

Sartono yang tak bisa membaca not balok ini, mulai tenggelam dalam kerja keras mengarang lagu saban harinya. “Saya mencermati betul seperti apa sebenarnya guru itu,” jelas Sartono sambil memulai membuat lagu itu.

Waktu sudah mepet, lagu belum juga jadi. Sartono pusing bukan kepalang. Syairnya masih amburadul. Pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Sartono tidak keluar rumah. Ia bahkan tak turut beranjang sana mengantar istri dan dua keponakannya silaturrahmi ke orangtua dan sanak famili. “Saat itu kesempatan bagi saya untuk membuat lagu dan syair secara serius,” katanya. “Waktu itu saya merasa begitu lancar membuat lagu dan menulis syairnya.”

Awalnya, lirik yang ia ciptakan kepanjangan. Padahal, durasi lagu tak lebih dari empat menit. Sartono pun berkali- kali mengkajinya untuk mengetahui mana yang harus dibuang. “Karena panjang sekali, maka saya harus membuang beberapa syairnya,” jelas Sartono. Hingga muncullah istilah “pahlawan tanpa tanda jasa.”

“Guru itu juga pahlawan. Tetapi selepas mereka berbakti tak satu pun ada tanda jasa menempel pada mereka, seperti yang ada pada polisi atau tentara,” seraya ia menambahkan.

Persoalan tak begitu saja beres. Lagu ada, Sartono kebingungan mengirimnya ke panitia lomba di Jakarta. Sebab ia tidak punya uang untuk biaya pengiriman via pos. “Akhirnya saya menjual jas untuk biaya pos,” katanya.

Sartono menang. “Hadiahnya berupa cek. Sesampainya di Madiun saya tukarkan dengan sepeda motor di salah satu dealer,” kata Sartono.

Lagunya melambung, bertolak-belakang dengan perjalanan hidup Sartono. Sang masterpiece tetap saja menggeluti dunia mengajar sebagai guru honorer hingga “pensiun”. Kalaulah ada penghargaan selain hadiah mencipta lagu, “cuma” beberapa lembar piagam ucapan terimakasih. Nampak piagam berpigura dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo yang diberikan pada 2005. Pak Gubernur juga memberikan bantuan Rp 600.000, plus sebuah keyboard.

Piagam lainnya diberikan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin pada 2000. Kemudian piagam dari Menteri Pendidikan Nasional Bambang Soedibyo pada 2005, plus bantuan uang. “Isinya enam ratus ribu rupiah,” kata Sartono.

Tahun 2006 lalu, giliran Walikota Madiun yang dalam sepanjang sejarah baru kali ini memberikan perhatian kepadanya. “Pak Walikota menghadiahi saya sepeda motor Garuda,” kata Sartono seraya menunjuk sepeda motor pemberian Walikota Madiun.

Meski minim perhatian, Sartono tetaplah bangga, lagunya menjadi himne para guru. Pekerjaan yang dilakoninya selama 24 tahun. Pengabdian yang tak pendek bagi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

sudah bukan saatnya lagi kita sibuk memusuhi perbedaan. saatnya berjuang maksimal memproduksi karya demi harumnya negeri tercinta Indonesia.

Energi Alternatif Ramah Lingkungan dan Menguntungkan

KONVERSI minyak tanah ke elpiji menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan bagi ibu rumah tangga dan pedagang makanan kecil.

Betapa tidak, selama bertahun-tahun mereka menggunakan kompor minyak untuk memasak, tiba-tiba Pertamina yang diserahi tugas untuk mengatur segala hal yang berkaitan dengan penggalian sumberdaya alam dan pendistribusiannya, mengumumkan bahwa stok minyak tanah di pasaran akan dikurangi. Program ini bertujuan mengurangi beban subsidi pemerintah akan bahan bakar dalam hal ini minyak tanah.

Program ini dilaksanakan dengan cara membagi-bagikan tabung dan kompor gas kepada pengguna minyak tanah. Dengan sedikit terpaksa, konsumen minyak tanah pun beralih ke elpiji karena minyak tanah di pasaran sulit ditemukan, kalaupun ada harganya sudah melambung tinggi.

Sayangnya, Pertamina dan masyarakat tampaknya kurang siap dalam melaksanakan program ini, sehingga terjadi beberapa kasus meledaknya tabung elpiji yang berakibat fatal, permainan para distributor dengan modal banyak sehingga terjadi penimbunan dan kasus paling parah terjadi pada bulan-bulan ini di mana tabung elpiji maupun isinya langka di pasaran dan harga melambung, sehingga masyarakat bingung dan terjadi antrean panjang di beberapa daerah.

Pada kasus-kasus seperti ini, masyarakat golongan bawah yang selalu jadi korban utama. Minyak tanah susah dicari, harga elpiji tidak terjangkau dan harus antri berjam-jam untuk mendapatkannya.

Beberapa alternatif bahan yang bisa dipakai untuk memasak adalah kayu bakar dan briket batu bara. Untuk kayu bakar, dirasa lebih tradisional dan kurang memungkinkan pada tipe rumah yang kecil dan berdesakan, dan untuk briket batu bara belum tersosialisasi baik di masyarakat.

Sebenarnya ada lagi alternatif bahan bakar gas alami yaitu biogas. Biogas ini bisa menggunakan bahan-bahan yang saat ini mayoritas masih merupakan barang sampah, seperti kotoran ternak, sampah organik, limbah industri bahkan kotoran manusia bisa digunakan.

Teknologi ini dikenalkan kepada masyarakat sejak tahun 1990-an oleh Borda, sebuah LSM Jerman yang bekerjasama dengan LSM Indonesia yaitu BPTP (Badan Pengembangan Teknologi Pedesaan), dimana sistem biogas ini memanfaatkan gas CH4 (metana), CO2 (karbondioksida) dan N2, H2, O2 serta H2S yang terkandung pada bahan tersebut yang dikumpulkan dan disalurkan untuk pembakaran.
Read More…

Vote N Proud,…. Dukung Indonesia

Ayo dukung Indonesia!

100 tahun kebangkitan nasional serta 10 tahun reformasie tak berbekas.
Saatnya kita harumkan nama bangsa.
Dukung Indonesia utk pemilihan 7 Tempat Keajaiban Dunia

Pemilihan 7 keajaiban milik dunia kembali digelar, berbeda dengan kriteria sebelumnya dengan keajaiban yang dibuat secara sengaja oleh manusia dalam bentuk bangunan, kali ini panitia mengajak dunia untuk memilih 7 keajaiban baru milik dunia yang bukan dari buatan manusia.

Sudah terpilih sebanyak 77 tempat di seluruh dunia dari berbagai kategori, dan Indonesia mengajukan atau setidaknya sudah terpilih sebanyak 3 tempat eksotik, antara lain:

1. Komodo National Park
2. Krakatau, Volcanic Island
3. Lake Toba

Voting dilakukan melalui internet, dengan batas waktu sampai akhir 2008!
linknya:
http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/

Catatan:

Indonesia mungkin akan kalah dari negara lain, bahkan negara kecil yang mengajukan tempat yang tidak terlalu menarik, hanya karena negara tersebut lebih melek internet (Singapore contohnya, yang mengajukan Bukit Timah Nature Reserve). Dan yang lebih menyedihkan lagi, pulau Sipadan juga termasuk dlm nominee yg diajukan oleh Malaysia. (sedihT_T).

Brazil misalnya, pemerintahnya menyediakan fasilitas gratis untuk masyarakatnya yang tidak punya akses internet agar bisa ikut memilih untuk negaranya.

Karena itu, ayo bantu sebarkan informasi dan ajakan ini!

Stand-Up N Speak-Up,…

Hari ini, tepatnya tanggal 5 juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Penetapannya dimulai sejak tahun 1972 melalui Sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Pada tahun yang sama dibentuk pula UNEP (United Nations Environment Program) yang bertanggung jawab terhadap peringatan World Environment Day setiap tahunnya di berbagai negara.

Maksud dari adanya peringatan hari lingkungan hidup sedunia ini adalah untuk meningkatkan kesadaran bagi siapa saja dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan perhatian pemerintah diberbagai negara dalam mengatasi masalah lingkungan.

Aksi nyata pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan adalah hal yang sangat penting, mengingat bumi yang kita tempati telah menjadi renta sebelum waktunya akibat ulah manusia. Penebangan liar menyebabkan hutan gundul, longsor dan banjir, sampah yang tidak bisa di daur ulang, eksploitasi terhadap isi perut bumi yang berlebihan, pencemaran udara yang mengakibatkan global warming serta pencemaran lainnya, semuanya itu terakumulasi dan menjadikan sumbangsih manusia bagi kehancuran bumi dan manusia itu sendiri.

Akibat masalah lingkungan yang tidak terjaga, telah kita rasakan hari ini, udara menjadi lebih panas, cuaca yang sulit diprediksi berakibat buruk pada pertanian (gagal panen), dimasa yang akan datang tidak menutup kemungkinan pulau-pulau akan tenggelam, negara-negara pantai, wilayahnya akan menyusut, kekurangan air bersih dan masih banyak lagi ketidaknyamanan yang dirasakan manusia.

Tema hari lingkungan hidup sedunia 2008 yang ditetapkan oleh UNEP (Badan Lingkungan Hidup Dunia) adalah “CarbonDioxide! Kick The Habit, Toward a Low Carbon Economy”, disesuaikan dengan kondisi di Indonesia tema itu menjadi

“UBAH PERILAKU DAN CEGAH PENCEMARAN LINGKUNGAN”.

Akankah hari lingkungan hidup sedunia ini menggugah manusia menjadi lebih bijak dalam menjaga lingkungannya dari berbagai pencemaran?? Akankah manusia yang hidup hari ini mampu mewariskan kondisi bumi (lingkungan) sama dengan hari ini, lebih baik ataukah lebih buruk??? Mari kita jawab pertanyaan itu dengan aksi nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sebuah tantangan menarik bagi Anda dan kita semua, bagaimana membuat lingkungan (bumi) menjadi lebih baik dimasa datang …

Saatnya kita berdiri dan bertindak (stand-up and speak-up), untuk melestarikan lingkungan kita demi generasi yang akan datang.