Berhemat atau tidak selamat

Berhematnya pun menyangkut segala aspek. Mulai hemat uang, pangan sampai energi.

Sebab, semua sumber yang dibutuhkan dalam kehidupan ini sudah makin terbatas. Kalau pun ada, harganya terus melangit. Makin sulit dikalkulasi.

Khusus penghematan dibidang energi, misalnya, Menneg PPN yang juga merupakan Kepala Bappenas Paskah Suzetta pun mulai memaparkan rencana-rencana pemerintah untuk segera disosialisasikan serta diimplementasikan ke seluruh penjuru Tanah Air.

Di Serang, Banten, Paskah menyatakan bahwa penghematan adalah jalan yang jauh lebih baik ketimbang harus menaikkan harga BBM.

“Kenaikan harga BBM akan berdampak langsung pada harga produk-produk lain dan mengurangi daya beli masyarakat,”

“Penghematan ini harus jadi gerakan nasional,” – Paskah Suzetta

Kebijakan penghematan ini akan disosialisasikan ke daerah-daerah.

Konkretnya, penghematan itu berupa pengurangan penggunaan pendingin ruangan (AC) dan lampu, terutama di kantor-kantor pemerintah, sampai pembatasan jam operasi supermarket.

Penghematan, tak pelak, memang hal paling konkret dan realistis yang bisa dilakukan bersama-sama dalam situasi serbaketat dan sulit seperti sekarang.Apalagi, harga minyak dunia betul-betul tak bisa diajak kompromi.

Sebutlah kontrak berjangka minyak utama New York jenis light sweet.

Untuk pengiriman Juni, tercatat naik US$ 21 sen menjadi US$ 118,09 per barel. Kontrak ditutup pada kisaran US$ 118,30, Kamis di New York Mercantile Exchange (Nymex).

Harga minyak terus meroket dipicu berbagai laporan terkait cadangan energi AS yang menyusut dan pasokan yang kian mengkhawatirkan. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mengatakan, per 18 April 2008, cadangan gasolin AS turun 3,2 juta barel. Harga minyak yang sudah begitu jauh di atas US$ 95 yang ditetapkan dalam APBN-P 2008, tentu berpengaruh pula kepada Indonesia Crude Price (ICP).

Parahnya lagi, lifting minyak sudah ngos-ngosan dan tak mungkin lagi digenjot. APBN-P pun butuh penyelamatan.

Pengamat ekonomi dari CSIS Pande Radja Silalahi mengatakan, pemerintah harus segera mempercepat pemanfaatan panas bumi, mikrohidro, bahan bakar nabati, dan batubara untuk listrik.

Semua untuk mengurangi konsumsi BBM. “Pemerintah terlambat merumuskan kebijakan energi. Pemerintah harus bekerja keras mengantisipasi penekanan subsidi energi,” kata Pande.

Penghematan memang harus segera dilakukan. Misalnya, mempersiapkan pemakaian bahan bakar gas (BBG) massal di sektor transportasi.

Selama ini penghematan masih jalan di tempat. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui konsumsi BBM premium dan solar bersubsidi selama kuartal I melewati kuota yang ditetapkan. Konsumsi BBM kuartal I tercatat 9,6 juta kiloliter. Target pemerintah hingga akhir tahun 35,5 juta kiloliter.

Wapres M Jusuf Kalla pun meminta percepatan program penghematan sektor kelistrikan dan BBM. Percepatan itu dilakukan agar subsidi yang diberikan tidak membengkak.

Di sektor kelistrikan, penghematan dilakukan dengan mempercepat penggunaan gas yang semula pada 2009 menjadi tahun ini sehinga bisa berhemat Rp 5 triliun.

PLN juga akan menggunakan minyak bakar sebagai pengganti solar. Pengalihan itu akan menghemat pengeluaran Rp 1,5-2 triliun.

Wakil Direktur Utama Pertamina Iin Arifin Tahyan mengatakan, pihaknya segera mempercepat konversi minyak tanah ke gas dari 15 juta menjadi 20 juta kepala keluarga pada 2008.Menurutnya, tahun ini akan dikonversi dua juta kiloliter minyak tanah ke gas.

Penghematan jelas butuh langkah konkret. Tak hanya lewat kebijakan di tingkat pusat, tapi juga menumbuhkan kesadaran semua pihak akan arti penting menyelamatkan APBN-P 2008. Menyelamatkan ekonomi negara.

Saat ini, yang dibutuhkan bukan debat kusir atau pun omong-omong kosong soal BBM dan anggaran. Sebab, Indonesia sudah sangat terlambat dalam kebijakan energi nasional, terutama menyangkut pengurangan ketergantungan terhadap minyak bumi.

Ada baiknya menyimak langkah kongkret Provinsi Jambi yang berinisiatif menggunakan briket batubara sebagai alternatif pengganti BBM. Terutama untuk kebutuhan pengusaha rumah tangga, pengrajin, dan masyarakat menengah ke bawah.

Langkah itu sangat taktis dan beralasan. Sebab, potensi batubara di Jambi mencapai ratusan bahkan miliaran ton yang belum digali. Baru sebagian yang digali oleh investor dalam negeri, terutama di Kabupaten Bungo dan Sarolangun.

Sekarang tinggal bagaimana pemerintah memberikan kesadaran dan mempelopori kegiatan berhemat, khususnya energi dan BBM, menjadi sebuah gerakan nasional yang dahsyat.

1 Comment

  1. berhemat masie dpet memihak rakyat kecil …..dan harus disadari oleh semua kalangan


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s