Bersatu dalam Nikmatnya Soto

Makan soto atau ”nyoto” adalah tradisi yang mempunyai sejarah panjang. Soto tersedia di warung-warung kecil pinggir jalan maupun di mal-mal atau restoran luas berpenyejuk ruangan. Soto adalah makanan rakyat yang ada di berbagai daerah di Nusantara, egaliter, serta melintas budaya.

Kalau kita lihat, hampir semua daerah di Indonesia mempunyai soto. Soto Bandung, Bogor, Betawi, Solo, Semarang, Kudus, Yogyakarta, Lamongan, Surabaya, Padang, Makassar, atau mana pun, mempunyai kekhasan nama dan rasa masing-masing. Kata ahli kuliner, Tuti Soenardi, ada satu ciri yang sama di antara semua soto, yakni bahwa soto pastilah ada kuah kaldunya dan bumbu dasar yang sama. Isinya, bisa apa saja, mulai taoge hingga gimbal.

Mari tengok Soto Betawi Bang Sawit di Margonda, Depok, misalnya. Penggemarnya bisa siapa pun dari daerah mana pun, salah satunya Direktur CIRUS Andrianof Chaniago (45), yang asli Padang itu. Ia menyukai soto padang, namun soto betawi lebih enak katanya. Sepekan tidak makan soto betawi, rasanya ada yang kurang. ”Disajikan panas-panas langsung di atas kompor seperti memasak sabu-sabu, soto menjadi beda,” ujarnya.

Tiga puluh tahun merantau di Jakarta membuat lidah Andrianof cocok dengan masakan Betawi. Ia juga gemar makan Soto Kaki Bogor di seberang Terminal Manggarai, Jakarta Selatan. ”Saya suka ajak teman-teman makan di sana, soalnya enak. Tempatnya di kaki lima dan panas, tetapi yang datang kebanyakan bermobil,” tutur ayah beranak satu ini.

Berbagai warung soto di Jakarta pernah disambangi Andrianof, termasuk Soto Gebrak dan Sroto Sokaraja di Tebet, Soto Ayam Ambengan di Kelapa Gading hingga tentu saja soto padang. ”Dari semua yang saya coba, yang pas di lidah saya ya Soto Betawi Bang Sawit. Ini bukan promosi lho ha-ha-ha,” katanya.

Murah dan komplet

Apa asyiknya nyoto? ”Buanyaaakkk,” sahut Darmo Susilo (32), warga Kramas, Tembalang, Semarang, yang ditemui saat melahap soto bangkong di Semarang, Jawa Tengah, pekan lalu. Soto itu makanan yang murah, namun komplet. Soto sudah mengandung nasi, kuah hangat, dan segar, taoge, dan lauk-pauk yang lengkap, mulai dari tempe goreng, perkedel kentang, dan sate-satean, seperti sate telur puyuh, kerang, serta ayam.

Sewaktu dia SD, satu mangkuk Soto Pak No harganya tidak sampai Rp 500, sekarang Rp 3.500, masih tetap murah. ”Harga soto di Semarang rata-rata Rp 5.000 semangkuk. Inilah makanan rakyat yang sebenarnya,” ujar manajer keuangan sebuah perusahaan farmasi di Semarang itu.

Darmo menuturkan, soto di Semarang biasanya dinamai sesuai pemiliknya, misalnya Soto Pak No, Pak Met, Pak Naryo. Ada juga warung soto sesuai tempatnya, misalnya Soto Bangkong, Soto Bonkarang, atau seperti ciri khas warungnya, misalnya Soto Idjo. Darmo paling suka rasa Soto Pak No, yang membuka warung di dekat rumahnya, itu karena Pak No adalah soto pertama yang dikenalkan ayahnya sewaktu Darmo kelas satu SD.

Soto, bagi Darmo, bisa dinikmati kapan saja asal disajikan panas-panas. Mau buat sarapan, makan siang, atau makan malam, cocok. Dengan satu syarat, sotonya juga harus enak, kuahnya tidak encer dan benar-benar kuah kaldu bukan sekadar air panas.

Karena bisa dimakan dalam segala suasana itulah, maka soto, menurut pemilik Soto Bangkong, H Soleh Sukarno (80-an), tidak akan pernah hilang atau ditinggalkan masyarakat. ”Yang pertama, ya harus enak dulu. Kalau tidak enak, ya tidak ada yang suka. Nah, kalau bangkong ini kan telanjur sudah ada nama jadi ya ada saja yang ke sini,” tutur Soleh, yang masih turut serta meracik bumbu dan melayani pelanggan.

Kompletnya rasa soto juga dirasakan Dewi Yuliani (31), warga Jalan Hasanudin, Semarang, yang saat ini bekerja di sebuah instansi pemerintah di Jakarta. Bumbu dapur seolah dimasukkan semua, mulai dari bawang putih hingga serai. Inilah yang membedakan soto dengan bakso. ”Kalau bakso rasanya hanya satu rasa,” ujar Dewi, yang paling suka dengan Soto Pak Met di dekat rumahnya di Semarang.

Darmo pernah bereksperimen mencampur soto dengan bakso sewaktu SMP, lantaran ia juga penggemar bakso. Hasilnya? ”Ya tidak enak karena kalau soto itu cocoknya dikasih nasi dan bikin kenyang. Kalau bakso kan selingan,” tuturnya.

Bagi Darmo dan Dewi, soto semarang adalah yang terenak karena kuahnya lebih gurih. Orang Solo lain lagi. Soto solo adalah yang paling enak, seperti dirasakan Soenarso DS (71), pensiunan pegawai pabrik gula Tasikmadu. ”Soto solo itu segar, bening tanpa santan, itu khasnya,” kata warga Karanganyar, Solo, yang menggemari Soto Triwindu di Pasar Barang Antik Triwindu, Solo.

Sejak muda, ia bersama teman-temannya selalu nyoto saat istirahat siang. Waktu itu harganya mungkin masih lima perak, Soenarso sendiri sudah lupa. Pada hari libur, ia mengajak anaknya makan Soto Triwindu naik sepeda motor dari Karanganyar ke Kota Solo, sekitar 10-an kilometer. ”Cukup soto ditambah kerupuk, tidak perlu lagi yang lain. Kalau mau ditambah perkedel atau sate, ya bisa saja,” imbuh Soenarso, yang sesekali masih nyoto di Triwindu ditemani anaknya, Gunawan (34). Harga soto Triwindu sekarang Rp 6.000 semangkuk.

Kenangan

Bagi perantau yang bermukim di Jakarta, nyoto adalah sebuah kenangan. Yang diingat selain rasa khas soto juga suasana akrab. Seperti dirasakan Rahmat (45), wiraswastawan usaha perdagangan warga Tangerang. Dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Yogyakarta pada tahun 80-an, Rahmat biasa nongkrong di warung Soto Pak Sholeh, di daerah Janti atau Soto Kadipiro di Jalan Wates, Yogyakarta.

Sambil menunggu soto diracik, ia cemal-cemol mengambil sate usus, tahu, dan tempe. Akibatnya, soto satu mangkuk kecil saja sudah membikin kenyang karena sebelumnya terlalu banyak ngemil.

Rahmat yang asli Yogyakarta bercerita, warung soto biasanya sudah buka pagi hari pukul 07.00 dan ramai oleh orang yang datang untuk sarapan. Ia juga menyukai Soto Lentho di Pasar Lempuyangan. ”Soto Lentho ini soto ayam biasa, namun ada tambahan lentho, atau perkedel singkong,” ujarnya.

Rahmat, yang memang penggemar soto, juga menyukai Soto Pak Tembong. Kekhasannya, soto ini berisi tetelan dan gajih yang diiris tipis-tipis selain juga soun dan taoge. ”Pokoknya kalau pulang ke Yogya pastilah nyoto di Kadipiro atau Pak Tembong,” katanya. Ia masih tetap nyoto di Jakarta, namun suasananya berbeda dengan di kampung halaman. ”Dulu, sambil makan aku bisa ngobrol sama pemiliknya,” imbuhnya.

Kenangan akan soto dirasakan pula oleh Rini (35), pegawai swasta yang berkantor di Jalan Sudirman. Nyoto bukan hanya makan, namun sebuah kenangan akan suasana akrab di kampungnya di Solo. ”Makanya, aku jarang nyoto di Jakarta. Harga semangkuk soto bisa Rp 25.000, tidak cucuk (sesuai) dengan rasanya,” kata Rini yang pernah makan soto betawi dan isinya hanya jeroan.

Pemersatu rakyat

Di luar soal rasa, soto juga menjadi pemersatu rakyat. Soto, karena biasanya ada di warung khusus soto (kecuali di mal atau food court), lantas didatangi oleh semua umur dan status sosial. Soto yang berlokasi di pinggir jalan namun enak bisa berpelanggan mulai pegawai ”rendahan” hingga direktur perusahaan. Seperti dikatakan Andrianof, orang dari status sosial berbeda bisa makan dan duduk bersama di Soto Kaki Bogor di Manggarai.

Jika ada hajatan kantor atau keluarga dan masing-masing orang mempunyai usul berbeda soal menu yang dipilih, soto menjadi jalan keluar. Yang satu ingin masakan Sunda, yang lain maunya gudeg, ada lagi yang minta masakan Manado. ”Daripada pusing, ya soto saja, dan semua setuju,” ujar Andrianof.

Dulu, Darmo dan teman-teman satu gank di SMA 5 Semarang juga kerap berdebat soal lokasi ngumpul. ”Kalau sudah bingung, semuanya pasti teriak warung sotoooooooo,” kenangnya.

Imbuh Andrianof, ”Selera lidah bisa menyatu di soto, baik kaya maupun miskin. Rasanya, soto ini sanggup menyatukan bangsa, ya?” Jadi, mari bersatu dalam soto! Hidup soto! (Dahono Fitrianto/ Lusiana Indriasari)

2 Comments

  1. Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://kuliner.infogue.com/bersatu_dalam_nikmatnya_soto

  2. Hidup soto juga !!!
    Jadi kangen sama soto semarang,,,
    Yang susah ditemukan di jakarta..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s